Kegiatan-KBM-di-SDN-Atakowa-02

Kisah Guru Atakowa, Judulnya Untung Ada Katak Dan Belalang

LTV-News-Lembata-Kehidupan guru yang mengabdi di SDN Atakowa bertahan dengan upah 150.000/bulan.

Mirisnya kondisi sekolah di SDN Atakowa, ternyata masih ada kisah memiluhkan tentang kehidupan guru gurunya. Demikian memiluhkan hingga kepala sekolah, Gregorius Demon pun melabelkan kisah itu dengan judul, untung masih ada Katak dan Belalang.

“Saya punya guru guru yang mengbdi di sini (SDN Atakowa_red), beruntung masih bisa hidup hanya karena masih ada katak dan belalang ama. Bisa makan katak, bisa makan belalang, ama,” ungkap Demon kepada WEEKLYLINE.NET, 15 Oktober 2015.

Demon menceritakan, selain kondisi sekolah yang tidak layak, guru gurunya juga diupah dengan tidak layak. Jauh dibawah batas Upah Minimum Regional.

Guru yang mengabdi di SDN Atakowa, demikian Demon​,​ ada tujuh orang, tiga orang PNS yakni, Gregorius Demon sebagai Kepala sekolah dan guru mata pelajaran PKN, Sirilus Laka Beyong guru kelas V, Agatha Kedang guru kelas IV.

Gregorius Demon

Gregorius Demon (foto: erlinabon)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sementara itu, tiga guru yang lain berstatus Honor. Dua diantaranya sedang melanjutkan studi S1 pada Universitas Terbuka, sudah semester IX. Tiga orang guru honor dengan gaji Rp. 150.000 (seratus lima puluh ribuh) dipotong dari 15 persen Biaya Operasional Sekolah (BOS). Selain 15 persen dana BOS yang diberikan kepada ketiga orang guru ini, per tiga bulan.

Untungnya ketiga guru honor, Maria Fatima Watan, Kornelius Laga dan Maria Floriana Kewa terbantu dari iuran Partisipasi orang tua, sebesar Rp. 250.000 perbulan.

Demon, Kepala SDN Atakowa, yang sudah mengabdi menjadi guru, dari honor sejak tahun 1985 dan baru diangkat menjadi PNS tahun 1994 ini sungguh berharap agar ada perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki gedung sekolah berikut fasilitas penunjang belajar mengajar di SDN Atakowa. Dan tidak lupa Demon meminta agar Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata dan Provinsi bisa member perhatian tentang persoalan ini.

Sebelumnya media ini memberitakan tentang kondisi SDN Atakowa, dengan judul Miris, Pendidikan di Lembata Teriris Dinding Bambu.

Media ini menulis, Mirisnya, Sekolah Dasar di Atakowa itu berstatus Negeri. Namanya SDN Atakowa. Berstatus sekolah Negeri, berlantai tanah, berdinding bambu, berjendela bilah bambu, papan tulis hampir saja jatuh, kursi dan meja yang sudah tidak layak.

Meja peot hampir patah, kursi yang sudah kumal hasil sumbangan warga Desa Atakowa. Ada lubang pada dinding bambu yang layak menjadi tempat intip siswa, saat ibu guru honor Maria Fatima Watan sedang memberikan penjelasan tentang pelajaran sejarah Lembata.

Atap yang sudah bocor, hingga terik matahari siang menembus masuk dalam ruangan, hingga anak kepanasan saat musim kemarau, ketika Guru Honor Kornelius Laga, sedang menulis huruf A, I, U, E O, untuk siswa kelas I.

Bahkan siswa kelas II, harus ngumpet di sudut ruangan saat musim hujan tiba, ketika Guru honor Maria Floriana Kewa, sedang menjelaskan hitung angka kali bagi tambah dan kurang. mereka belajar berdesak desakan. Menulis berhimpit himpitan. Bahkan membaca sambil sikut sikutan, sebab ruangan kelasnya hanya seukuran 5 x 4 meter. Inilah Mirisnya SDN Atakowa, desa dipuncak ketinggian Negeri Ikan Paus itu.

Sekolah ini bediri tahun 2010. Awalnya hanya satu kelas paralel dari SDK Lodobelolong hanya dengan belasan murid.

Guru dan Murid SDN Atakowa sedang proses KBM di sekolanya yang berdinding bambu. (foto: erlinabon)

Guru dan Murid SDN Atakowa sedang proses KBM di sekolanya yang berdinding bambu. (foto: erlinabon)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah berkembang menjadi puluhan murid, warga Desa Atakowa berswadaya mendirikan bangunan dengan lima ruangan dari bambu.

Saat ini, SDN Atakowa memiliki 44 siswa dengan lima rombongan belajar, dari kelas satu samai kelas lima masing masing satu rombongan belajar.

Beberapa tahun lalu, SDN Atakowa, mendapat bantuan dari Plan Lembata membangun dua ruangan kelas. Dan bangunan atas bantuan Plan Indonesia di Lembata itu diresmikan oleh Bupati Lembata, Oktober 2014 lalu.

“Bupati datang untuk meresmikan dua ruangn kelas yang dibangun atas bantuan Plan itu. Tahun lalu diresmikan, sekitar bulan Oktober,” ungkap Demon, sembari menceritakan selama sekolah ini berdiri sampai tahun 2014, pemerintah Kabupaten Lembata dalam hal ini, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaraga Kabupaten Lembata belum pernah memberikan bantuan kepada mereka.

“Kami baru dapat dana DAK tahun 2015 sebanyak Rp. 130 juta untuk membangun satu ruangan belajar,” kata Demon.

Ironisnya, kondisi sekolah ini disampaikan Demon bertepatan dengan Lembata merayakan ulang Tahunnya sebagai kabupaten Otonomi yang ke XVI.

Sekedar diketahui Lembata, sebuah Pulau yang menjadi Kabupaten setelah lepas dari kabupaten induk Flores Timur, Provinsi NTT.

Enam Belas tahun lalu, Lembata yang oleh Bangsa Belanda lebih di kenal dengan Lomblen berdiri sendiri menjadi sebuah kabupaten dengan ibukota Lewoleba. (sandrowangak)

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You might also likeclose