Jober yang dibangun Pemkab Lembata di Lewoleba. Menurut survei Pertamina, depot BBM itu tidak layak. Gambar diambil, Selasa
Jober yang dibangun Pemkab Lembata di Lewoleba. Menurut survei Pertamina, depot BBM itu tidak layak. Gambar diambil, Selasa

Jober Pertamina di Lewoleba Tidak Layak Pakai

LEWOLEBA – Jober Pertamina di Kota Lewoleba yang dibangun Pemerintah Kabupaten Lembata tahun anggaran 2007-2008 tidak layak dipakai sebagai dermaga depot bahan bakar minyak (BBM).
Jober yang dibangun dengan total anggaran Rp 50 miliar tersebut belum layak dipakai setelah tim survei Pertamina turun ke Lembata pada akhir tahun 2010 hingga awal 2011. Demikian Marketing Branch Manager Pertamina Kupang, Hardiyanto Tato ketika ditemui Pos Kupang, di ruang kerjanya, Selasa (10/11/2015). Ia mengatakan, pembangunan jober di Lewoleba, Kabupaten Lembata merupakan inisatif dari pemerintah daerah. Pada awal memulainya pembangunan jober tersebut, lanjut Tato, Pemda Lembata tidak melibatkan orang Pertamina. Saat pembangunan jober sudah selesai, demikian Tato, baru disampaikan kepada Pertamina. Setelah tim survai Pertamina turun ke Lembata pada akhir tahun 2010 hingga awal 2011, ternyata jober tersebut belum layak digunakan.Tato mengungkapkan, masalah krusial jober Lewoleba terletak ada pembangunan dermaga yang belum layak. Sebab, syarat pembangunan jober, dermaganya harus dibangun dengan kedalaman tujuh meter hingga sembilan meter. Jober di Lewoleba, kata Tato, saat kondisi air laut pasang dermaga hanya satu meter sampai dua meter, sehingga kapal tanker tidak bisa berlabuh. Ia menjelaskan, syarat pembangunan jober, selain dermaga, adalah kualitas pipa, termasuk teknik pengelasan. Pekerja yang melakukan pengelasan pipa, tegas Tato, harus mengantongi sertifikat dari Pertamina. Pipa yang dilas jangan sampai bocor dan memberikan dampak sosial serta ekonomi terhadap masyarakat sekitar. Pembangunan tangki dan jarak tangki harus diperhatikan. Tato menjelaskan, penyimpanan BBM harus memerhatikan aspek ketebalan dan ketahanan pondasi. Pipa untuk pemadaman, dan lainnya harus disiapkan. Pompa dan tangki-tangkinya tidak sesuai standar. Ada kriteria-kriteria yang harus dipenuhi baik dari aspek keamanan, keselamatan dan lingkungan.
Hasil tim survei, kata Tato, fasilitas tersebut belum direkomendasikan untuk digunakan. Pasalnya, kontraktor yang membangun jober harus mendapatkan sertifikasi dari Pertamina. “Urgensi penggunaaan jober di Lewoleba berkurang, sebab sudah di-cover dari Larantuka. Hal kecil lainnya adalah masalah kelistrikan yang tidak sesuai. Jika diperbaiki, ongkosnya sangat besar. Untuk membangun jober prosedurnya sangat ketat, harus memenuhi beberapa kriteria, termasuk izin dari pemerintah daerah,” jelas Tato. Tato mengatakan, untuk membangun jober harus mengantongi izin dari pemerintah pusat melalui Kementerian Sumber Daya Mineral (SDM). Namun, lanjut Tato, jober yang dibangun di Lembata sejak tahun 2007 tersebut, belum mendapat izin dari Kementerian SDM. Ia mengatakan, pembangunan jober tersebut tidak di bawah naungan Pertamin. Tato mengaku belum
mengetahui pasti sejauh mana peran Pertamina dalam penelitian jober tersebut. (yen)

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You might also likeclose