Bupati Lembata Yance Sunur
Bupati Lembata Yance Sunur

Jober Pertamina di Lewoleba Menyalahi Aturan

LTV News-LEWOLEBA – Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, mengatakan akan segera melakukan survai kondisi jober BBM Lewoleba yang ditelantarkan itu. Pemda mengusahakan supaya jober tersebut dimanfaatkan. Bupati Sunur mengemukakan hal itu saat ditemui Pos Kupang di Hotel Palm Lewoleba, Jumat (6/11/2015) malam.
Ia mengatakan, ada beberapa alasan sehingga jober tersebut beum dimanfaatkan. Pertama, secara teknis, jober mengalami gangguan teknis. Kedua, Kejaksaan Negeri Lewoleba sedang menangani kasus pembangunan jober tersebut. Sebab, diduga ada penyalahgunaan keuangan.
Pertimbangan dua hal itu, lanjut Sunur, Pemerintah Kabupaten Lembata belum bisa memanfaatkan jober tersebut. “Intinya pemerintah akan berusaha untuk memanfaatkan fasilitas yang sudah dibangun,” ujarnya. Jika selama ini jober mubazir, kata Sunur, itu lebih disebabkan faktor teknis dan non teknis terkait penegakan supremasi hukum.
Ketua Dewan Evaluasi Kota (DEK) Kabupaten Lembata, Simeon Bediona, Rabu (4/11/2015) siang mengatakan, sejak awal pembangunan depot itu sebenarnya telah melanggar Undang- Undang Dasar (UUD) 1945.
Pada pasal 33 UUD’45 itu, lanjut Simeon, ditegaskan bahwa bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. “Bagaimana mungkin Pemerintah Kabupaten Lembata mengambil alih tugas negara membangun fasilitas negara untuk dikelola Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN)?” tandas Simeon.
Ia menyatakan, apapun pertimbangannya, pemerintah pusat dalam hal ini Pertamina pasti tidak akan terima. Dan, itu sudah terbukti. Jika sampai saat ini jober tidak bisa digunakan, jawabannya sudah bisa diketahui, yakni pembangunan jober menyalahi aturan. Aspek lainnya, kata Simeon, jober tersebut tidak dibangun sesuai syarat teknis Pertamina. Makanya, Pertamina tidak mungkin memanfaatkannya, karena secara teknis, depot yang dibangun dengan dana puluhan miliar itu tidak layak digunakan untuk dermaga BBM.
Simeon menyatakan, lebih baik depot BBM itu digunakan untuk mengisi tuak dan arak saja. “Lembata ini kan penghasil tuak dan arak. Jadi, tuak dan arak itu lebih baik diisi di dalam “drum besar” itu. Kalau sudah diisi, perusahaan daerah punya tugas menjual tuak dan arak itu. Yang dijual bukan lagi BBM, tapi BMB, yakni bahan minuman beralkohol,” ujar Simeon. Simeon mengingatkan Pemkab Lembata agar mengambil sikap tegas atas “kilang minyak” yang mubazir tersebut. Sebelum pemerintah mengambil sikap, lanjut Simeon, perlu dilakukan audit atas penggunaan dana pembangunan depot BBM yang lengkap dengan fasilitas pendukung tersebut. (kro/yen)

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You might also likeclose